Writer Academy

Bab I Pembuka

 

Wajahnya hampir menempel di kaca jendela mobil. Saat bayang-bayang pepohonan ada di kilatan cahaya mentari, terpantul di kaca mobil itu. Kenderaan bermotor itu melaju kencang menyusuri jalanan yang mendaki, terapit hutan yang lebat dengan pohon-pohon menjulang tinggi dan besar. Titik-titik cahaya menembus daun-daunnya. Menciptakan berkas-berkas berkilau di sekitar tubuh jalan dan semuanya. Burung-burung beterbangan dan kicauan mereka memantul berkali-kali pada dahan-dahan pohon. Sampai semuanya bergema. Beberapa ekor tupai meloncat dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Beberapa di antaranya, bahkan ada di pinggir jalan beraspal tersebut. Tak sedikit pun hewan pengerat ini merasa terusik dengan suara mobil itu. Mereka asyik melakukan apa yang menjadi kegiatan mereka sehari-hari.

Di dalam mobil hitam tersebut ada 3 orang. Sebuah keluarga. Yang di depan setir adalah kepala keluarga. Sang ayah yang mengenakan setelan resmi. Dengan dasi dan jas berwarna biru tua. Sudah berumur. Sedangkan di sebelah duduknya seorang ibu yang pastinya adalah isterinya yang tercinta. Perempuan itu sedang membaca koran. Matanya terus bergerak di halaman demi halaman. Sepertinya ia mencari sesuatu. Rambutnya sebahu dan mencerminkan seorang wanita karier. Bibirnya dihiasi lipstik  merah hati. Terbentuk sensual. Pakaian yang dikenakannya juga tak kalah resminya dengan pakaian yang dikenakan oleh pria di sampingnya itu.

Di kursi bagian belakang, seorang pemuda kira-kira berumur 17 tahun sedang duduk sendiri. Termenung sambil melihat keluar mobil. Matanya sedikit berair. Atau mungkin berkaca-kaca karena sinar mentari pagi lumayan cerah hari itu. Dia mengenakan kemeja kotak-kotak. Rambutnya pendek dan hitam. Juga berkilau dengan alasan yang mungkin sama. Pemuda itu terlihat berkhayal. Entah apa yang dipikirkannya.

“Kami akan sering datang. Lagipula ada yang tertinggal,” Si Ayah berbicara. Sang Anak hanya diam seperti tidak mendengarkan kata-kata orang tuanya. Ia malah menguap.

“Asrama pasti menyenangkan, Mike. Kau tak semestinya murung. Bukannya ini cita-citamu?” sahut Si Ibu. Ia melipat koran dan meletakkan di dashboard mobil.

“Iya. Aku tahu. Ini cita-citaku. Dengan ini kalian bisa lebih fokus untuk bekerja, bukan?” sahut anak itu.

“Kau berbicara seolah-olah kami berdua mengasingkanmu. Padahal, kau sendiri ingin belajar di sekolah seperti itu. Nah, kalau memang cita-citamu ke sana, kau tak semestinya murung, seolah-olah kami berdua membuangmu. Bukankah aku mengikuti kemana kau mau pergi?” Ayahnya berkata lagi.

“Aku murung bukan karena akan tingga di sana,” kata anak itu membela diri.

“Lalu apa? Apa orang tuamu tidak boleh tahu?” tanya ayahnya lagi.

“Sekarang kita bertiga di dalam mobil, Pah,” sahut anak itu ketus.

“Mike, aku tahu kau sulit menerima keadaan. Tapi, percayalah, kau pasti bisa menyadari semua nantinya,” balas si ayah.

“Aku ngga janji, Pah. Mungkin bertahun-tahun.”

“Sudahlah, Bob. Kita pergi ke sini bukan membahas hal itu kan? Apa kita sudah dekat? Kenapa lama sekali?” ucap wanita itu kepada si ayah.

“Ya. Lima menit lagi. Mike, Papa sayang kau,” katanya pelan. Mike diam saja seperti memang itulah sifatnya.

 

 

Beberapa menit kemudian…

Gedung itu besar dan megah. Menjulang tinggi di tengah-tengah hutan. Tinggi pintu gerbangnya saja mencapai 4 meter. Gedung tersebut dikelilingi tembok yang tebal dan tinggi pula. Jalan beraspal terhenti tepat tegak lurus di pintu masuk gedung itu. Sementara hanya ada rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar dinding tembok tersebut. Si ayah berkali-kali membunyikan klakson mobil sampai pintu gerbang itu terbuka perlahan-lahan. Mobil sedan tersebut memasuki gedung.

Begitu pintu mobil terbuka, Mike keluar sambil memanggul tasnya. Tepat di hadapannya sebuah lapangan futsal yang dikelilingi gedung dengan letter U tersebut. Gedung seperti gedung sekolah Mike di Abbrode, tapi gedung ini lebih tinggi 3 lantai. Lagipula gentengnya berwarna biru gelap. Ruangan-ruangan di tiap lantai terlihat dari tempat Mike berdiri. Keanehannya adalah, meskipun gedung itu begitu megah dan areal itu lumayan luas, tetapi tidak ada satu orang pun yang terlihat di sana. Hanya kicauan burung-burung yang dari tadi bergema riang.

“Ngga ada siapa-siapa,” kata Mike.

“Oh, Pak Bobby! Maaf, saya lupa akan kedatangan Anda!” Terdengar seruan dari sebelah kiri mereka. Bobby – nama ayah Mike – langsung melihat ke arah suara itu. Seorang laki-laki separo baya yang mengenakan kemeja polos berwarna biru dengan celana hitam mendatangi keluarga yang baru tiba. Tubuhnya yang terbilang gendut itu berjalan dengan langkah sigap. Ia mengulurkan tangan hendak berjabat. Pak Bobby menyambut salam itu, diikuti isterinya lalu Mike.

“Selamat datang di Writter Academy. Maaf, saya punya kesibukan di kantor tadi. Itu urusan penyambutan tahun ajaran baru di WA. Pastinya pemuda cerdas ini yang akan tinggal bersama kami di sini. Selamat pagi, Nak. Siapa namamu?” tanyanya ramah. Kumisnya yang mulai memutih itu membuat dia mirip Santa. Apalagi dengan tubuhnya yang lumayan besar.

“Mike,” sahut Mike ketus.

“Oh, Michael. Saya Robert. Kita pasti sering bertemu nantinya. Oh, Pak Bobby. Bagaimana perjalanan Anda sekeluarga? Menyenangkan bukan?”

“Ya, begitulah. Pak Robert, anak saya akan ikut program di WA ini. Jadi, saya mengantarnya karena besok lusa pelajaran akan dimulai, bukan?”

“Ya, pastinya informasi yang Anda berikan telah sampai ke meja saya. Saya senang sekali Anda memilih Writter Academy untuk anak Anda. Silahkan, mari saya antar melihat-lihat sekolah ini.”

“Oh, maaf, Pak Robert. Sebagaimana Anda, saya sangat sibuk dengan pekerjaan saya. Maka, saya hanya mengantarkan putra saya sampai disini. Untuk barang keperluannya nanti, Mike bisa mengurus sendiri. Dia sudah mandiri sejak kecil.”

“Sayang sekali. Tapi, tidak mengapa. Saya akan mengurus Mike sampai ia berada di kamarnya. Akan banyak teman-teman yang bisa mengatasi kesendiriannya. Mike pasti cepat beradaptasi. Bukan begitu, Mike? Ini tempat yang menyenangkan nantinya.”

“Baiklah. Mike, kau harus bersikap baik di sini. Jadilah anak yang baik. Belajar yang rajin,” nasihat ayahnya.

“Aku bukan anak kecil lagi, Pah. Aku bisa jaga diriku sendiri. Hati-hati dalam perjalanan,” sambut Mike seadanya.

“Ok, itu sudah membuktikan Mike sudah dewasa, Bob. Ayo kita berangkat!” ajak isterinya sambil masuk kembali ke mobil.

“Pak Robert, tolong jaga putra tunggal saya.”

“Saya akan menjaga dan mengajarnya seperti anak sendiri. Jangan khawatir, Pak Bobby.”

“Kalau begitu saya bisa tenang bekerja. Permisi.”

“Silahkan.”

Lalu, mobil sedan itu berangkat keluar dari komplek WA. Pintu gerbang tertutup kembali dan kesunyian mendatangi tempat itu. Hening.

“Nah, Nak. Kita menjadi teman sekarang. Ayo aku antar. Nanti kamu bisa berjalan-jalan untuk perkenalan.” ajak Pak Robert.

Mereka berjalan bersama menuju ruangan asrama. Seperti Bapak dan Anak.

“Pak Robert, apa Bapak memang seramah itu?”

 

 

Leave a response

Your response: